Postingan

Menampilkan postingan dengan label My Poem

Kasidah Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Mengembalikan apa yang sudah diambil, apa sama dengan tak mengambilnya sama sekali? Meski terlihat sama, tapi itu berbeda. Ada yang berubah.. Mengembalikan perasaan yang sudah dimiliki, tak semudah saat kita mengabaikannya. Benar... Biarkan itu tekikis dengan sendiriya. Tapi sungguh disayangkan jika perasaan yang indah itu hanya dibiarkan begitu saja. Selama ini aku sudah menjaganya. Membiarkannya tumbuh liar dihati dan pikiranku. Tapi akhir-akhir ini sungguh terasa berat. Melelahkan jika harus menjaganya seorang diri. Itu sebabnya aku ingin mengembalikannya. Bukankah itu lebih baik dari pada membunuh perasaan itu? Aku lelah bukan karena tak tulus. Tapi karea untuk perasaan seperti ini, tak akan pernah ada balasannya. Hanya aku dan perasaanku sendiri. Inilah cinta bertepuk sebelah tanganku. Yang indah, dan memilukan. Hmm.. Rasanya menyenangkan membayangkan perasaan itu berbalas. Tapi aku   tak ingin memalukan diriku sendiri dengan menjadik...

Dalam Diam

Entah apa yang ada dalam benakmu jika mendengar ini. Namun sudah  berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, Kuhanya terpaku pada satu nama. Kau.. Aku hanya berkutat dengan perasaanku sendiri. Antara kehormatanku, atau dirimu. Kukekang hati ini agar tak liar mendekatimu. Meski itu sulit, sangat sulit. Kau yang pertama menaungiku seperti hakikat ‘Sang Awan’. Dan membuat ‘Hujan’ ini menjadi hamba setiamu. Kau perlihatkan warna kelammu yang kuanggap itu keindahan terindah. Tidakkan aku begitu menyedihkan? Kutata kembali hati ini. Kuberanikan diri untuk berkata: Aku pernah berharap kau meraih tanganku meski tanpa kutarik Ku pernah berharap bisa memiliki indah warna kelammnu meski hanya sekejap. Namun ternyata, keindahan terindah yang benar-benar kudamba, Ialah jika kau tetap menjadi ‘Awan’ di langit cintaku. Tanpa harus kuraih, tanpa harus kumiliki. Kini, kuhanya berharap bisa terus mencintaimu, Dalam diam.

Aku Bukan Zulaikha

Di sudut hati nan rapuh, kubersimpuh.. Bernanahkan luka hati, tertusuk duri.. Haruskah ku turut Zulaikha yang mengemis cinta? Sedang tak nampak jelmaan yusuf di akhir masa. Yang ada hanya wajah-wajah malaikat pembawa dusta! Lantas, pantaskah ku mengiba? Kueja kembali hikayat kusus berbuah surga. Saat nafsu sang Zulaikha menggelora. Siapa sanggup acuhkan elok parasnya? Sang Yusuf tak bergeming. Imannya tetap kokoh dan bening. Sedang Zukaiha terus merajuk. Kehormatannya terpuruk. ‘Kemarilah duhai kasihku.. Kemarilah..’ ‘Tidak! Sesungguhnya aku takut pada Tuhanku.. Aku takut pada Tuhanku!’ Inilah cinta yang suci. Yang berujung ridho Ilahi. Lantas, masih pantaskah ku mengiba? Di sudut hati nan kukuh, ku berteguh.. Tak ada lagi luka hati, tertusuk duri. Yang ada hanya sabar dan ikhlasku, menanti