Postingan

Menampilkan postingan dengan label My Prosa

SURAT KODE 301

Gambar
“Rabu, 25 Februari 2053. Surat kode 301. Lokasi terlacak. Bumi bagian equator . 52, 998, 413. Atas nama, Sofia. Memulai untuk merekam...” *** Minggu, 25 Januari 2015.             Bel berbunyi. Kutinggalkan keasikanku menonton televisi. Siapa yang bertamu siang-siang begini? Pintu kubuka.Wajah seorang pria terlihat di sana.             “Permisi. Benar ini rumah nona Sofia?”             “Iya. Itu saya.”               “Saya seorang pengantar surat. Anda mendapatkan surat.”             “Surat? Dari siapa?”             “Nanti Anda akan tahu. Silahkan diterima.”             Kuterima ...

Dialog Tentang Sebongkah Hati

Aku berjalan hari itu. Di masa yang sama, menuju tempat yang sama. Namun ada yang tampak berbeda; seorang gadis sedang memunggungiku, dengan rambut panjang yang sia-sia ia ikat karena masih tampak helai-helainya yang bergerak-gerak lesu. Mungkin tertiup angin, atau sekadar mengikuti gemulai gerak pemiliknya meski tak ingin. Aku mendekat. Merasa mengenal, tapi di saat yang sama merasa tak kenal. Merasa dekat, tapi seolah ada jarak yang mencegat. Gadis di hadapanku kini tak lagi bergerak. Masih berdiri memandang ke depan dengan ekspresi—yang anehnya aku tahu—sedih di wajahnya. Gadis itu menoleh kepadaku. Semai senyum ranumnya menghiasi. Ya, dia tersenyum! Apa kesedihannya tadi hanya citraannya belaka? Atau aku yang salah mengira?   “Wahai.. Kau datang,” ucapnya sambil mencoba merapikan helaian rambutnya yang belum terikat. Tampak gugup dan malu-malu. Lucu juga melihatnya yang seperti itu. Namun, aku tak tertawa. Justru aku mencoba menerjemahkan apa yang kulihat dari dirinya. ...

JURANG PEMISAH

Orang berkata kami ini kembar. Hah! Ada-ada saja. Bagaimana bisa kami menjadi kembar di saat perbedaan itu begitu tampak dari perangai kami? Hanya wajah kami yang serupa. Selain itu, jauh berbeda! Ya, memang ada sedikit kesamaan. Jika dia sedih, aku juga sedih. Jika dia sakit, aku juga sakit. Jika dia bahagia, aku turut bersuka. Hanya sekedar merasa. Sesudah itu, hilang begitu saja. Tapi, itu juga yang membuatku muak. Karena saat aku membencinya, bukankah dia juga membenciku? Dan saat ini, aku sangat membencinya! Ya, benar. Aku begitu berbeda dengannya. Bagai dua sisi koin yang berlainan. Aku si buruk, sedangkan dia begitu indah. Aku si murung, sedangkan dia penuh riang tawa. Aku yang kelam, sedangkan dia bersinar terang. Aku yang tak berarti, sedangkan dia memiliki banyak arti. Di kehidupan kami, aku dan dia tepisahkan oleh dua buah nama, Maya dan Santi. Di antara kami ada sebuah jarak pemisah. Sampai saat ini pun, jarak itu masih terbentang. Dari dulu memang seperti ini. Tak b...

PENTAS MIMPI

            Mataku terasa berat saat membaca buku di hadapanku. Rasa lelah sehabis latihan di sanggar tadi memang tak bisa dihilangkan hanya dengan duduk-duduk saja. Aku pun menyerah pada kantuk yang tak tertahankan ini. Kututup buku pelajaran yang kubaca. Kemudian aku menuju kasur setelah sebelumya mematikan lampu kamarku. Dalam sepinya malam aku pun terlelap.             Tiba-tiba, cahaya menyilaukan memburu kedua mataku, membuat tangan kananku terangkat demi menghalangi cahaya  itu. Perlahan kuturunkan tangan dan mencoba membiasakan mataku terhadap suasana di sekitar. Suasana aneh yang baru kali ini aku rasakan. Cahaya itu seketika menghilang. Berganti dengan suasana redup. Meskipun begitu, samar-samar aku dapat melihat puluhan kepala menghadap kepadaku. Mereka duduk berjajar dengan tenang tanpa sedikit pun suara terdengar bahkan jika itu suara desahan napas. Begitu...

DEWI ARUM SARI

DEWI ARUM SARI Diceritakan kembali oleh Khairunnisa Agnia             Kerajaan Cirebon tempo dulu menyimpan permata indah berkilauan. Dialah Dewi Arum Sari yang cantik jelita, berbalut budi pekerti santun dan sahaja. Kecantikannya mampu membuat semua pria yang melihatnya jatuh hati, tak terkecuali para pangeran yang sangat berpengaruh dan berkuasa. Mereka berbondong-bondong datang ke Kerajaan Cirebon untuk mempersunting Dewi Arum Sari. Tetapi, satu persatu lamaran itu ditolaknya dengan halus. Padahal, ayah Dewi Arum Sari, sang Raja, sangat meginginkan agar Dewi menikah dengan salah satu dari pangeran itu. Sang Raja pun bertanya, mengapa Dewi tak mau menerima satu pun lamaran itu? Dewi hanya bisa terdiam dengan rasa bersalah yang mendalam terhadap ayahandanya. Namun sorot matanya seolah-oleh bicara. Tanpa kata-kata, Dewi mengingat kenangan itu.             Siang hari yan...