Postingan

Kasidah Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Mengembalikan apa yang sudah diambil, apa sama dengan tak mengambilnya sama sekali? Meski terlihat sama, tapi itu berbeda. Ada yang berubah.. Mengembalikan perasaan yang sudah dimiliki, tak semudah saat kita mengabaikannya. Benar... Biarkan itu tekikis dengan sendiriya. Tapi sungguh disayangkan jika perasaan yang indah itu hanya dibiarkan begitu saja. Selama ini aku sudah menjaganya. Membiarkannya tumbuh liar dihati dan pikiranku. Tapi akhir-akhir ini sungguh terasa berat. Melelahkan jika harus menjaganya seorang diri. Itu sebabnya aku ingin mengembalikannya. Bukankah itu lebih baik dari pada membunuh perasaan itu? Aku lelah bukan karena tak tulus. Tapi karea untuk perasaan seperti ini, tak akan pernah ada balasannya. Hanya aku dan perasaanku sendiri. Inilah cinta bertepuk sebelah tanganku. Yang indah, dan memilukan. Hmm.. Rasanya menyenangkan membayangkan perasaan itu berbalas. Tapi aku   tak ingin memalukan diriku sendiri dengan menjadik...

JURANG PEMISAH

Orang berkata kami ini kembar. Hah! Ada-ada saja. Bagaimana bisa kami menjadi kembar di saat perbedaan itu begitu tampak dari perangai kami? Hanya wajah kami yang serupa. Selain itu, jauh berbeda! Ya, memang ada sedikit kesamaan. Jika dia sedih, aku juga sedih. Jika dia sakit, aku juga sakit. Jika dia bahagia, aku turut bersuka. Hanya sekedar merasa. Sesudah itu, hilang begitu saja. Tapi, itu juga yang membuatku muak. Karena saat aku membencinya, bukankah dia juga membenciku? Dan saat ini, aku sangat membencinya! Ya, benar. Aku begitu berbeda dengannya. Bagai dua sisi koin yang berlainan. Aku si buruk, sedangkan dia begitu indah. Aku si murung, sedangkan dia penuh riang tawa. Aku yang kelam, sedangkan dia bersinar terang. Aku yang tak berarti, sedangkan dia memiliki banyak arti. Di kehidupan kami, aku dan dia tepisahkan oleh dua buah nama, Maya dan Santi. Di antara kami ada sebuah jarak pemisah. Sampai saat ini pun, jarak itu masih terbentang. Dari dulu memang seperti ini. Tak b...

PENTAS MIMPI

            Mataku terasa berat saat membaca buku di hadapanku. Rasa lelah sehabis latihan di sanggar tadi memang tak bisa dihilangkan hanya dengan duduk-duduk saja. Aku pun menyerah pada kantuk yang tak tertahankan ini. Kututup buku pelajaran yang kubaca. Kemudian aku menuju kasur setelah sebelumya mematikan lampu kamarku. Dalam sepinya malam aku pun terlelap.             Tiba-tiba, cahaya menyilaukan memburu kedua mataku, membuat tangan kananku terangkat demi menghalangi cahaya  itu. Perlahan kuturunkan tangan dan mencoba membiasakan mataku terhadap suasana di sekitar. Suasana aneh yang baru kali ini aku rasakan. Cahaya itu seketika menghilang. Berganti dengan suasana redup. Meskipun begitu, samar-samar aku dapat melihat puluhan kepala menghadap kepadaku. Mereka duduk berjajar dengan tenang tanpa sedikit pun suara terdengar bahkan jika itu suara desahan napas. Begitu...

DEWI ARUM SARI

DEWI ARUM SARI Diceritakan kembali oleh Khairunnisa Agnia             Kerajaan Cirebon tempo dulu menyimpan permata indah berkilauan. Dialah Dewi Arum Sari yang cantik jelita, berbalut budi pekerti santun dan sahaja. Kecantikannya mampu membuat semua pria yang melihatnya jatuh hati, tak terkecuali para pangeran yang sangat berpengaruh dan berkuasa. Mereka berbondong-bondong datang ke Kerajaan Cirebon untuk mempersunting Dewi Arum Sari. Tetapi, satu persatu lamaran itu ditolaknya dengan halus. Padahal, ayah Dewi Arum Sari, sang Raja, sangat meginginkan agar Dewi menikah dengan salah satu dari pangeran itu. Sang Raja pun bertanya, mengapa Dewi tak mau menerima satu pun lamaran itu? Dewi hanya bisa terdiam dengan rasa bersalah yang mendalam terhadap ayahandanya. Namun sorot matanya seolah-oleh bicara. Tanpa kata-kata, Dewi mengingat kenangan itu.             Siang hari yan...

Dalam Diam

Entah apa yang ada dalam benakmu jika mendengar ini. Namun sudah  berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, Kuhanya terpaku pada satu nama. Kau.. Aku hanya berkutat dengan perasaanku sendiri. Antara kehormatanku, atau dirimu. Kukekang hati ini agar tak liar mendekatimu. Meski itu sulit, sangat sulit. Kau yang pertama menaungiku seperti hakikat ‘Sang Awan’. Dan membuat ‘Hujan’ ini menjadi hamba setiamu. Kau perlihatkan warna kelammu yang kuanggap itu keindahan terindah. Tidakkan aku begitu menyedihkan? Kutata kembali hati ini. Kuberanikan diri untuk berkata: Aku pernah berharap kau meraih tanganku meski tanpa kutarik Ku pernah berharap bisa memiliki indah warna kelammnu meski hanya sekejap. Namun ternyata, keindahan terindah yang benar-benar kudamba, Ialah jika kau tetap menjadi ‘Awan’ di langit cintaku. Tanpa harus kuraih, tanpa harus kumiliki. Kini, kuhanya berharap bisa terus mencintaimu, Dalam diam.

Tanya Si Kecil

            Tujuh. Delapan. Tujuh lagi. Bahkan enam dan lima. Tak ada nilai yang memuaskan dari hasil ulangan harian murid-muridku. Apakah biologi sesulit itu? Atau, aku yang tak pandai mengajari? Bolpoin di tanganku menari dengan lincah. Aku masih dengan sabar memeriksa pekerjaan murid-muridku, kelas sepuluh. Sesekali aku terkekeh melihat jawaban mereka yang unik, aneh dan tak terduga. Ada yang dengan jujur menulis  ‘Maaf bu, saya nggak paham’. Mungkin, dia tidak masuk saat materi itu, pikirku. Ada juga yang bercerita, ‘Ibu, saya itu kalau malam nggak bisa tidur. Jadi waktu sekolah pagi, saya ngantuk. Makanya tidak memperhatikan ibu karena saya tidur di kelas.’ Hmmm.. Ada-ada saja. Meski mereka jujur, tetap saja aku harus memberi nilai yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Kutorehkan nilai ‘nol’ besar dengan pesan, ‘Tidak ada alasan untuk tidak belajar meski mengantuk!’. Apa aku terlalu kejam? Mungkin benar. Tapi inila...

Paman Teddy Bear

            Pria itu terus berlari. Dengan kostum boneka beruang yang ia pakai, membuatnya cukup menarik perhatian orang-orang. Tapi dia tidak peduli. Dia terus berlari. Mengejar waktu, atau dikejar waktu? Ditangannya ada bingkisan kecil terbungkus rapi. Dia pegangi, seakan itu benda berharga yang akan dilindungiya sampai mati. Tak peduli panasnya hari, terlebih dengan kostum tebal itu.             Dia masuk kehalaman sebuah rumah yang cukup luas. Ada pesta disana. Dengan balon dan hiasan lainnya. Tawa-tawa kecil terdengar. Disuatu sudut, dia terpaku. Memandangi gadis kecil yang menggunakan kursi roda dengan pakaian putri nan cantik. Pesta ulang tahun ini sungguh membuat gadis kecil itu bahagia. Sejenak, gadis kecil itu melupakan kekurangannya. Ditambah sang ibu yang dengan setia menemani. Tersenyum, meladeni setiap ocehan gadis kecilnya.          ...